Menyelami Makna Safari Ramadhan “Ketika Cahaya Keikhlasan Berpendar di Desa Parangan”

Sleman, 7 Maret 2025 – Malam di Desa Parangan terasa lebih syahdu di bulan Ramadhan. Langit bertabur bintang seolah menjadi saksi bisu perjalanan sekelompok pemuda yang datang bukan sekadar berkunjung, tetapi mengabdi. Mereka adalah siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), menapaki jalan sunyi dengan satu niat, berbagi dan belajar dari masyarakat.

Safari Ramadhan tahun ini, yang berlangsung dari 3 hingga 7 Maret 2025, kembali membawa pesan kebaikan. Di bawah bimbingan BMH Bhaskara Mubaligh Hijrah, Juni Prasetya, M.Pd.I., para siswa menjalankan misi pendidikan dan sosial. Mereka mengajar anak-anak TPA mengaji, mendampingi kegiatan ibadah, hingga mengadakan bakti sosial bagi warga sekitar. Bagi mereka, ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang memperkaya jiwa.

Ketua pelaksana, Fadlan Ahmad Rabbani, merenung sejenak sebelum bercerita. “Alhamdulillah, seperti tahun sebelumnya, kami mengajar anak-anak TPA, membantu masyarakat, dan berbagi kebahagiaan,” tuturnya. Ada sesuatu yang berbeda tahun ini. “Keramahan warga begitu menghangatkan. Anak-anak menyambut kami dengan tawa lepas, tanpa sekat, tanpa jarak. Seolah kami sudah lama menjadi bagian dari mereka.”

Bukan hanya warga yang mendapatkan manfaat, para siswa pun menyerap banyak pelajaran dari pengalaman ini. “Kami belajar berbicara dengan santun, bersikap rendah hati, dan menyadari bahwa kebersamaan lebih penting daripada sekadar perbedaan latar belakang,” ungkap Fadlan. Ada pula momen-momen kecil yang tak terlupakan, seperti obrolan ringan dengan tuan rumah selepas tarawih yang berlanjut hingga larut malam, tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat.

Ustadz Juni Prasetya melihat semangat anak-anak didiknya dengan penuh kebanggaan. “Soliditas mereka luar biasa. Mereka bukan hanya datang untuk mengajar, tetapi juga menyelami kehidupan masyarakat dengan penuh keikhlasan,” ujarnya. Bagi Ustadz Juni, Safari Ramadhan bukan hanya tentang berbagi ilmu agama, tetapi juga menumbuhkan rasa kekeluargaan. “Masyarakat merasa dihargai, anak-anak menjadi lebih percaya diri, dan siswa-siswi pun memahami bahwa hidup bukan sekadar teori, tetapi praktik nilai-nilai kebaikan.”

Di desa kecil ini, batas-batas sosial seolah lenyap. “Anak-anak dari berbagai latar belakang melebur. Tidak ada perbedaan antara suku Jawa dan luar Jawa, semua menjadi satu dalam kebersamaan,” tambahnya.

Dari perjalanan singkat ini, para siswa membawa pulang pelajaran berharga tentang kemandirian, tanggung jawab, dan arti kepedulian. Harapan pun tersemat untuk tahun mendatang. “Jika memungkinkan, kami ingin memperluas jangkauan. Lebih banyak masjid, lebih banyak peserta, lebih banyak kebajikan yang bisa kami sebarkan,” harap Ustadz Juni.

Safari Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi cahaya yang menerangi hati. Ia hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa banyak yang kita beri. Dan di Desa Parangan, cahaya itu terus berpendar, menghangatkan siapa saja yang bersedia membuka hati (EY).