Pengajian Akbar Ramadhan: “Hakikat dan Kewajiban Menuntut Ilmu” Bersama Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed

Bertemakan “Hakikat dan Kewajiban Menuntut Ilmu” menjadi kajian yang diangkat dalam kegiatan Pengajian Akbar Ramadhan 1442 H. Sebagaimana kegiatan pengajian sebelumnya, pengajian ini juga ditujukan untuk penunjang kegiatan keagamaan di bulan suci Ramadhan tahun ini. Pengajian akbar menjadi salah satu kegiatan penunjang keagamaan untuk keluarga besar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta maupun masyarakat pada umumnya. Pengajian akbar dilaksanakan pada tanggal 30 April 2021 dengan mengundang pembicara dari PP Muhammadiyah. Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed selaku sekretaris umum PP Muhammadiyah berkesempatan memberikan kajian ilmunya dalam pengajian akbar Ramadhan 1442H.

Pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh ananda Muhammad Mukhlis kelas XI IPA 3 menjadi keberkahan di awal acara. Sesi selanjutnya ialah ceramah yang diberikan oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed perihal kewajiban manusia dalam menuntut ilmu. Prof Abdul memaparkan bahwasanya, “Allah memberikan kepada manusia potensi untuk belajar dan berbagai kemampuan untuk memperoleh ilmu melalui pendengaran, penglihatan dan perasaan atau hati nurani.” Atas segala ilmu yang diperoleh manusia semuanya berasal dari Allah sehingga tidak ada perbedaan antara ilmu agama maupun non agama karena semua ilmu kadarnya sama-sama penting.

Perintah menuntut ilmu dijelaskan 2x dalam surah Al Alaq yakni perintah untuk membaca dengan menyebut asma Allah dan perintah yang menegaskan bahwa Allah sebagai Tuhan Yang Maha Mulia. Kedua perintah tersebut berkaitan mengenai Tuhan sebagai Dzat pencipta manusia dimana dari hal tersebut kita dapat memahami mengenai ilmu asal usul manusia, baik itu dalam ilmu sains maupun ilmu keagamaan.

Jika kita tilik kembali sejarah mengenai masyarakat Mekah pra Islam atau sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rasul dikatakan merupakan masyarakat jahiliyah. Masyarakat jahiliyah bisa diartikan menjadi dua pengertian yang pertama masyarakat bodoh karena tingkat buta hurufnya tinggi sementara yang melek baca tulis minim. Pengertian kedua lebih mengarah kepada sifat dimana masyarakat waktu itu mencerminkan kurangnya ilmu atau rendahnya akhlak dan moral. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan pengambaran peristiwa penguburan bayi perempuan akibat keengganan memiliki seorang anak perempuan. Oleh karena itu, inti dari peradaban adalah adanya ilmu dan akhlak. Bahkan orang-orang yang memiliki ilmu dan berakhlak mulia mendapat kemuliaan dari Allah SWT. Hal tersebut diperjelas dalam QS. AL Mujadalah ayat 11 bahwa Allah benar-benar akan mengangkat dan memuliakan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Berbagai hadits pendukung lainnya semakin menegaskan betapa kita untuk menuntut ilmu. Dipaparkan dalam HR Tirmidzi, “Rasulullah bersabda barangsiapa yang berangkat untuk menuntut ilmu makan dia berasa di jalan fisabilillah hingga dia kembali.” Penegasan hadits lainnya diperoleh dari jaminan Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi siapa yang senantiasa belajar bahkan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga. Satu hal lagi mengenai menuntut ilmu ialah kita diizinkan untuk bersifat hasad atau iri pada 2 orang yakni orang yang berilmu dan mengamalkannya serta orang berharta dan berderma dengan hartanya.

Menutup ceramahnya kali ini, Prof Abdul sekali lagi menanamkan pemahaman kepada kita perihal keutamaan berilmu dimana dalam hadits dijelaskan agar kita terhindar dari bahaya. Pertama, jadilah kamu orang yang alim. Kedua, jika tidak jadilah orang pembelajar. Ketiga, jadilah orang yang suka mendengarkan ilmu dan keempat jadilah orang yang cinta ilmu dan jangan sampai tidak menjadi salah satunya. Prof Abdul juga mengaris bawahi bahwa kesuksesan kita di dunia, akhirat, maupun keduanya adalah berilmu.

“Jadilah manusia pembelajar dan berilmu karena dengan ilmu kita akan mendapat kemudliaan di hadapan manusia dan Allah SWT. Melalui ilmu jugalah kita mendapat kesejahteraan materiil, jasmani, maupun rohani”, ujar Prof Abdul. (NH)