Meneladani Spirit KH. Ahmad Dahlan: Membumikan Risalah Islam Berkemajuan di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
YOGYAKARTA — SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta (Smuha) terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang beriman, berilmu, dan beramal. Untuk memperkuat landasan ideologis warga sekolah sekaligus menginternalisasi nilai-nilai keumatan, Smuha menggelar sosialisasi materi "Membumikan Risalah Islam Berkemajuan" yang secara dinamis dirangkaikan dengan kegiatan pengajian yang penuh energi.
Materi Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang disampaikan oleh Ustadz H. Gita Danu Pranata, S. E., M. M. menjadi sarana pembinaan fundamental bagi seluruh civitas akademika Smuha untuk memahami ajaran Islam yang menekankan kemajuan, modernitas, dan relevansi zaman. Secara historis, RIB merupakan rumusan ideologis, teologis, dan praksis yang melanjutkan cita-cita pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Hal ini tecermin dari pesan legendaris beliau: "Dadiyo kyai sing kemajuan lan aja kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah" (Jadilah kyai yang berkemajuan dan jangan lelah bekerja untuk Muhammadiyah). Pokok pikiran ini sejalan dengan berbagai dokumen ideologis Muhammadiyah, mulai dari Muqaddimah AD Muhammadiyah hingga Risalah Pencerahan.
Landasan ideologis tersebut tercermin dalam lima karakter utama RIB yang dianalogikan sebagai pohon kehidupan:
- Berlandaskan Tauhid (Akar): Keyakinan kepada Allah SWT sebagai fondasi dasar pemikiran dan tindakan.
- Bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah (Batang): Pedoman utama dalam mengamalkan ajaran Islam.
- Menghidupkan Ijtihad dan Tajdid (Cabang & Ranting): Berpikir aktif dan kontekstual merespons zaman.
- Mengembangkan Wasathiyah (Daun): Sikap adil, seimbang (tawazun), dan toleran (tasamuh).
- Mewujudkan Rahmatan lil 'Alamin (Buah): Solusi nyata bagi peradaban dunia sesuai QS. Al-Anbiya: 107.
Penguatan ideologis di Smuha ini ditindaklanjuti dengan pemahaman bahwa pintu ijtihad dan tajdid terus terbuka melalui purifikasi akidah serta dinamisasi muamalah. Penerapan dinamisasi di lingkungan sekolah hadir lewat pendidikan integratif yang memadukan keagamaan, sains, dan teknologi, serta tata kelola lembaga yang transparan. Manhaj Tarjih yang menggabungkan pendekatan bayani, burhani, dan irfani juga menyelaraskan nilai Islam dengan Sustainable Development Goals (SDGs) melalui lima pilar Maqashid Syariah, mencakup perlindungan jiwa, akal, agama, keturunan, dan lingkungan.
Sikap inklusif dan wasathiyah ini juga mewarnai perkhidmatan nyata serta etika beragama warga Smuha di tengah masyarakat. Berdasarkan Keputusan PP Muhammadiyah No. 229/KEP/I.0/B/2026 tentang Fikih Takziah, tradisi tahlilan 7 atau 40 hari memang tidak memiliki dalil sahih sehingga tidak disyariatkan. Namun, warga sekolah diajarkan untuk merespons perbedaan dengan bijak: meminta izin secara santun atau tetap bertakziah untuk menghibur keluarga duka. Perkhidmatan sosial ini disempurnakan melalui sinergi Amal Usaha Muhammadiyah seperti gerakan kemakmuran masjid, pemanfaatan LAZISMU, aksi kebencanaan MDMC, serta dakwah muballigh yang menyejukkan.
Melalui pengajian ini, diharapkan untuk memperdalam pemahaman agama, mempererat tali silaturahmi, serta menyejukkan hati di tengah kesibukan sehari-hari. Selain itu, melalui ilmu dan nasihat yang disampaikan, kita diingatkan untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Harapannya, setiap materi yang kita simak tidak hanya menjadi wawasan semata, tetapi mampu kita amalkan dalam kehidupan nyata, membawa kedamaian bagi diri sendiri, keluarga, serta memberikan keberkahan yang berkelanjutan bagi seluruh jamaah yang hadir. (INU)
