Jejak Syukur Angkatan 26: Bakti Sosial Kelulusan dan Mengukir Kenangan di Tanah Pacitan

PACITAN - Debur ombak Pantai Selatan dan semilir angin pesisir Pacitan menjadi saksi bisu sebuah titik balik kehidupan bagi ratusan remaja berseragam putih-abu-abu. Pada hari Senin, 4 Mei 2026, sebuah perjalanan bermakna ditempuh oleh siswa kelas 12 SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Perjalanan menuju "Kota 1001 Goa" ini adalah ritual perpisahan yang dibalut dengan semangat berbagi melalui acara Bakti Sosial (Baksos) dan Tasyakuran Kelulusan Tahun Ajaran 2025/2026.

Sekolah ini memilih cara yang berbeda untuk merayakan kelulusan. Alih-alih konvoi kendaraan atau corat-coret seragam di jalanan Yogyakarta, mereka menempuh perjalanan darat menuju Jawa Timur untuk menggelar bakti sosial dan menerima Surat Keterangan Lulus (SKL) di alam terbuka.

Persiapan di Bawah Langit Pagi Yogyakarta

Semangat sudah membuncah sejak fajar menyingsing. Aflah Setyaningrum Arumsari, siswi kelas 12 F8, menceritakan bagaimana ia sudah bersiap sejak pukul 06.00 WIB untuk melakukan presensi tepat waktu. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh siswa berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti Apel Pemberangkatan. Di bawah bimbingan MC Bapak Juang Hasdya Firmansyah, S.Pd., suasana khidmat terasa saat Kepala Sekolah, Ibu Retno Sumirat, S.Pd., M.Pd., memberikan sambutan pelepasan, diikuti doa pemberangkatan yang dipimpin oleh Bapak Wahyu Wijayanto, S.Pdi., S.Sy., M.Si..

Rombongan besar yang terdiri dari bus-bus yang masing-masing didampingi oleh dua guru pembimbing akhirnya membelah kemacetan pagi Yogyakarta sekitar pukul 07.30 WIB. Di dalam bus, ketegangan menanti hasil kelulusan mencair oleh gelak tawa dan nyanyian bersama sambil menikmati bekal snack dan air minum yang telah disiapkan panitia. Bhagaskara Rheno Mahardika dari kelas 12 F6 berkisah bahwa perjalanan jauh itu tidak terasa melelahkan karena energi kebersamaan yang begitu kuat.

Bakti di Masjid Agung, Syukur di Tepi Samudera

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam, destinasi pertama adalah Masjid Agung Pacitan. Setibanya di sana pukul 11.00 WIB, para siswa melaksanakan jamaah sholat Dhuhur yang dijamak dengan Ashar serta menikmati makan siang boks yang telah disediakan.

Pukul 12.30 WIB, acara inti dimulai dengan Pengajian Akbar dan Penyerahan Baksos yang dipusatkan di Masjid Agung serta Gedung Dakwah Muhammadiyah Pacitan. Acara dipandu oleh duet siswa Reysa Halwa (XII F4) dan Gading Pamoring (XII F6), serta dibuka dengan lantunan tilawah merdu dari Rajwa Aliyya (XII F7).

Simbolis penyerahan bantuan dari SMA Muha kepada PDM Pacitan diwakili oleh Ahmad Nabil (XII F6), mantan Ketua IPM Muha, bersama 10 perwakilan siswa lainnya. Sambutan hangat diberikan oleh Bapak Agus Winoto, M.Si., selaku Ketua Panitia Baksos, yang menekankan pentingnya karakter berbagi bagi para lulusan.

Rheno awalnya mengira mereka akan berkeliling dari rumah ke rumah, namun format acara yang dipusatkan di masjid justru memberikan kesan religius yang mendalam. "Melihat wajah-wajah syukur para penerima sembako membuat kami sadar bahwa kelulusan ini adalah nikmat yang harus dibagikan manfaatnya," tutur Rheno.

Detik-Detik yang Mengharukan di Pantai Pancer Door

Usai kegiatan sosial, rombongan bergerak menuju Pantai Pancer Door, sebuah pantai eksotis di kawasan Kebon, Ploso, Pacitan. Di sinilah momen yang paling dinantikan tiba: Pembagian Surat Keterangan Lulus (SKL).

Suasana berubah menjadi haru biru saat wali kelas masing-masing mencari tempat ternyaman di tepi pantai untuk menyerahkan hasil perjuangan siswa selama tiga tahun. "Ada rasa sedih yang menyesak," ungkap Atika Nazwa Marziada dari kelas 12 F5. "Saat memegang surat itu di bawah langit Pacitan, saya tersadar bahwa ini adalah terakhir kalinya kami memakai seragam sekolah secara lengkap sebagai satu angkatan".

Menutup Perjalanan dengan Perjamuan di Gunungkidul

Setelah puas berfoto dan mengukir kenangan di pantai hingga pukul 15.00 WIB, rombongan memulai perjalanan pulang. Namun, perjalanan belum berakhir. Sebagai penutup rangkaian acara, mereka singgah di RM Lesehan Griyo Wono, Gunungkidul, pada pukul 17.00 WIB.

Di rumah makan ini, para siswa menikmati makan malam bersama dan melaksanakan jamaah sholat Maghrib-Isya yang kembali diimami oleh Bapak Wahyu Wijayanto. Kehangatan perjamuan ini menjadi momen oase terakhir untuk saling mengucap maaf dan terima kasih sebelum bus kembali melaju menuju SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, membawa pulang para siswa yang baru saja menjadi alumni tepat pada pukul 20.00 WIB.

Perjalanan ke Pacitan ini akhirnya usai, namun jejak langkah Angkatan 26 akan tetap terekam. Mereka pulang bukan hanya membawa selembar kertas bertuliskan "LULUS", tetapi membawa memori tentang indahnya berbagi dan pentingnya menjaga karakter di mana pun kaki berpijak (EB).