Bimbingan Teknis: Integrasi Adiwiyata Dalam Pembelajaran di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
YOGYAKARTA – Sekolah yang bersih dan hijau bukan lagi sekadar soal halaman yang bebas sampah atau taman yang tertata rapi. Lebih dari itu, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang belajar untuk membentuk kebiasaan sekaligus karakter peduli lingkungan. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam Program Adiwiyata, sebuah program yang mendorong sekolah menciptakan budaya ramah lingkungan melalui tindakan nyata seluruh warga sekolah. (24/09/2026)
Pada pertemuan ini, mengulik tentang “Sekolah Adiwiyata” yang dinarasumberi oleh Bapak Azmi Muhammad Syauqi Bik, ST. dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta. Diskusi kali ini berbeda dengan sebelumnya, yang biasa membahas tentang integrasi pembelajaran mendalam dalam pembelajaran. Namun, hari ini membahas tentang adiwiyata.
Berbekal dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.52/MENLHK/SETJEN/KUM.1/9/2019 tentang “Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS)”, menjadikan pedoman untuk sekolah memulai merencanakan sekolah adiwiyata.
Program Adiwiyata ini ditujukan bagi berbagai jenjang pendidikan, termasuk SMA/MA, SMK/MAK, SMP/MTs, SD/MI, hingga SLB/SKh. Sekolah yang mengikuti program ini diarahkan untuk membangun perilaku peduli dan berbudaya lingkungan secara berkelanjutan.
Lantas, apa yang harus dilakukan sekolah?
Langkahnya dimulai dari komitmen. Sekolah melakukan pendaftaran melalui SIDIA, melengkapi data sekolah serta SK Tim Adiwiyata, kemudian berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mendapatkan pembinaan, monitoring, dan evaluasi. Sekolah juga perlu menyusun program lingkungan dalam rencana empat tahunan dan satu tahunan sebelum melaksanakan kegiatan secara nyata.
Aksi peduli lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sederhana tetapi berdampak. Pengurangan sampah, penggunaan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, pemilahan dan pengolahan sampah, penghijauan, penghematan air dan energi menjadi bagian dari upaya Perilaku Ramah dan Peduli Lingkungan Hidup (PRLH).
Yang menarik, lingkungan sekolah juga dapat menjadi laboratorium pembelajaran. Tanaman, taman, tempat sampah terpilah, hingga fasilitas lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai media belajar. Dengan demikian, murid tidak hanya mengetahui teori tentang lingkungan, tetapi juga belajar melalui kebiasaan dan praktik sehari-hari.
Program Adiwiyata juga menilai empat aspek utama, yakni kebijakan sekolah, proses pembelajaran, kegiatan partisipatif, serta sarana dan prasarana yang mendukung lingkungan hidup. Keempat aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan sekolah yang benar-benar berbudaya lingkungan.
“Penggunaan botol atau plastik sekali pakai juga dikurangi, perlahan diarahkan untuk membawa tumbler sendiri. Dengan cara ini, menjadikan sekolah ramah lingkungan dan sampah pun berkurang”, ujar Azmi Muhammad Syauqi Bik, ST.
Materi Program Adiwiyata melalui aplikasi SIDIA juga menekankan pentingnya perubahan yang berlangsung secara bertahap: dari mengetahui dan memahami, kemudian melakukan, hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Panduan tersebut tercantum dalam materi yang disampaikan pada April 2026.
Ibu Eny Widyastuti, S. Pd. Juga menyampaikan, “Tidak harus praktik untuk selalu menerapkan adiwiyata di setiap materi dan pertemuannya. Namun, cukup dibuat 1 kali pertemuan yang menerapkan program adiwiyata. Selain itu, juga pembiasaan sederhana yang dimulai dari kelas masing-masing. Begitu pula untuk ekstrakurikuler, intrakurikuler, dan kokurikuler”.
Pada akhirnya, Adiwiyata bukan hanya tentang mendapatkan penghargaan. Esensinya adalah membangun kebiasaan baik agar warga sekolah memiliki kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Mulai dari hal kecil, dilakukan bersama, dan dibiasakan setiap hari karena sekolah yang peduli lingkungan adalah sekolah yang sedang menyiapkan generasi untuk masa depan. (INU)
