KEWAJIBAN BAGI PEMILIK HARTA
KEWAJIBAN BAGI PEMILIK HARTA
Allah telah melebihkan sebagaian hamba Nya dalam memberikan titipan harta di dunia ini, ada yang menyempitkannya. Harta yang dititipkan kepada manusia merupakan ujian dari Allah swt yang harus disikapi sesuai dengan ketentuan syari'at. Bagi para aghniya' dalam perspektif Islam mendapatkan tugas dan ketentuan dalam membelanjakan harta bendanya.
Dasar-dasar umum yang telah di gariskan oleh islam sebagai beban kewajiban yang harus dipenuhi serta dilaksanakan oleh setiap pemilik harta kekayaan (maal) ialah:
1. Membersihkan harta kekayaannya dengan menunaikan wajib zakatnya setelah harta kekayaaan mencapai jumlah tertentu. Zakat ini merupakan hak Allah dan hak Adam (hak orang yang diberinya wewenang untuk menerima bagian zakat).
2. Nafkah wajib kepada istri dan anak. Termasuk kepentingan rumah tangga lainnya. Kemudian kepada keluargas dekat, terutama kepada orang tua yang kesempitan dalam jumlah yang setaraf dengan kadar kemampaunnya dan dalam batas yang diperkenankan oleh agama.
3. Shodaqah kepada orang-orang yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Seperti orang faqir, miskin, anak yatim lanjut usia dan lain sebagainya.
4. Apabila ketiga macam pengeluaran dan kepentingan tersebut diatas telah dicukupi akan tetapi masih ada sisa (kelebihan) kekayaan yang dimiliki, maka kelebihan ini agar dimanfaaatkan dengan baik terutama bagi kepentingan umum serta diusahakan tambahnya dengan dipermodalkan dalam bidang perdagangan, perusahaan, pabrik, perkebunan, peternakan, perikanan, pertanian dan lain sebagainya. Dengan demikian kelebihan kekayaan itu tidak hanya menjadi barang simpanan bagaikan benda mati yang tidak bermanfaat.
