DALIL-DALIL SEPUTAR WAKTU SUBUH

DALIL-DALIL SEPUTAR WAKTU SUBUH

Pengetahuan tentang waktu salat sangatlah penting, karena mengetahui masuknya waktu salat menjadi dasar sah atau tidaknya salat itu. Para ulama menyepakati, sesuai dengan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw, bahwa awal waktu salat Subuh adalah saat terbit fajar sadik. Berikut ini kita kemukakan dalil terkait waktu subuh, sebagai berikut :

Melalui al-Quran dan hadis waktu-waktu salat fardu telah disebutkan sebagai berikut:

 Firman Allah dalam surah an-Nisā’ [4] ayat 103,

.فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ

الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْْؤُْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا.

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS an-Nisā’ [4]: 103).

الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْ ِۗرِ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا.

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (QS al-Isrā’ [17]: 78). 3. Firman Allah dalam surah al-Takwīr [81] ayat 18,  .

وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسََ

Demi Subuh apabila fajar telah menyingsing (QS al-Takwīr [81]: 18).

  1. Firman Allah dalam surah al-Baqarah [2] ayat 187,

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلَْبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْْسَْوَدِ مِنَ الْفَجْ ِۖرِ ثُمَّ اَتِمُّوا ال صِيَامَ اِلَى الَّيْلَِۚ . . . 

Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam ... (QS alBaqarah [2]: 187). 

  1. Hadis dari ‘Āisyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī,

أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرََتْهُ قَالَتْ كُنَّ نِسَاءُ الْْؤُْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُوَْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلََةَ الْفَجْرِ مُتَلَ فِعَاتٍ بِمُرُوَْطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوَْتِهِنَّ حِيْنَ يَقْضِيَْنَ الصَّلََةَ لََ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنََ الْغَلَسَِ.

Bahwasannya ‘Āisyah telah mengabarkan kepadanya, dan ia mengatakan,”kami wanitawanita mukminat pernah ikut salat bersama Rasulullah saw. dengan menutup wajahnya dengan kerudung, kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing setelah selesai salat

tanpa diketahui oleh seorang pun karena hari masih gelap (HR al-Bukhārī).

  1. Hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Āṣ yang diriwayatkan oleh Muslim,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوَ بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُوَْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوَْلِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلََةِ الْْغَْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلََةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الَْْوْسَطِ وَوَقْتُ صَلََةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوَْعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلََةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيَْ شَيْطَانٍَ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amar bin ‘Āṣ, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Waktu Zuhur apabila matahari tergelincir sampai bayang-bayang seseorang sama dengan tingginya yaitu selama belum masuk waktu Asar. Waktu Asar selama matahari belum menguning. Waktu magrib selama mega merah belum hilang. Waktu Isya sampai tengah malam. Waktu Subuh mulai terbit fajar selama matahari belum terbit. Apabila matahari telah terbit, maka jangan kamu lakukan salat, karena matahari itu muncul di antara dua tanduk setan. (HR Muslim). 

  1. Hadis dari Ibnu ‘Abbās, yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzī

أَخْبَرَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَّنِي جِبْرِيَْلُ عَلَيْهِ السَّلََمَُ عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى الظُّهْرَ فِي الُْْوَْلَى مِنْهُمَا حِيَْنَ كَانَ الْفَيْءُ مِثْلَ ال شِرَاكِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِيَْنَ كَانَ كُلُّ شَ يْءٍ مِثْلَ ظِ لِهِ ثُمَّ صَلَّى الَْْغْرِبَ حِيَْنَ وَجَبَتِ الشَّمْسُ وَأَفْطَرَ الصَّائِمُ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ حِيَْنَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ حِيَْنَ بَرَقَ الْفَجْرُ وَحَرُمَ الطَّعَامُ عَلَى الصَّائِمِ وَصَلَّى الْْرََّةَ الثَّانِيَةَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّ كُ لِ شَ يْءٍ مِثْلَهُ لِوَقْتِ الْعَصْرِ بِالْْمَْسِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِيَْنَ كَانَ ظِلُّ كُ لِ شَ يْءٍ مِثْلَيْهِ ثُمَّ صَلَّى الْْغَْرِبَ لِوَقْتِهِ الَْْوَّلِ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ الْْخِرَةَ حِيَْنَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى الصُّبْحَ حِيَْنَ أَسْفَرَتِ الَْْرْضُ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ جِبْرِيَْلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الَْْنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ فِيَْمَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنَِ.

Ibn 'Abbas telah mengabarkan kepadaku bahwa Nabi saw bersabda: Jibril a.s. pernah mengimami saya salat di Baitullah dua kali. Kemudian salat Zuhur ketika matahari tergelincir dan membentuk bayang-bayang sepanjang tali sepatu. Kemudian salat Asar pada saat bayang-bayang sama panjang dengan bendanya. Kemudian salat Magrib ketika matahari terbenam dan orang berbuka puasa. Kemudian salat Isya ketika mega merah telah hilang. Kemudian salat Subuh ketika terbit fajar dan ketika makanan tidak boleh dimakan oleh orang yang berpuasa. Kemudian pada keesokan harinya, ia salat Zuhur ketika bayangbayang sama panjang dengan bendanya. Kemudian salat Asar ketika bayang-bayang dua kali panjang bendanya. Kemudian salat Magrib pada waktu awal (ketika matahari terbenam). Kemudian salat Isya ketika telah selesai sepertiga malam. Kemudian salat Subuh ketika hari sudah terang. Kemudian ia berpaling kepadaku dan berkata: Wahai Muhammad, ini adalah waktu salat para nabi sebelummu. Waktu salat itu adalah antara kedua waktu ini (HR atTirmidzī).

 

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa awal waktu Subuh ditunjukkan dengan fenomena matahari berupa terbit fajar. Dalam praktik Rasulullah saw salat Subuh ketika galas dan pernah pula saat isfār (sudah terang). Galas

(الغلس) didefinisikan oleh Badruddīn al-‘Ainī dalam Syarḥ Sunan  Abī Dāwūd  (II: 245) sebagai berikut,

اَلْغَلَسُ ظَُلَْمََةَُ آخَِرَِ اللََيَْلَِ إَِذََا اخَْتََلََطََتَْ بَِضََوَْءَِ الصََّبََاحَِ وَََلَيَْسََ الَْْرََُادَُ مَِنَْهَُ قََبَْلََ طَُلَُوعَِ الَْفََجَْرَِ الصََّادَِقَِ بََلَِ الَُْْرََادَُ أََنََّهَُ كََانََ صََلََّى الصَُّبَْحََ فَِي أََوََّلَِ وََقَْتَِهَِ وََهَُوََ طَُلَُوعَُ الَْفََجَْرَِ الصََّادَِقَِ وََهََذََا الَْوََقَْتَُ يََكَُونَُ غََلََسًَا.َ

Galas adalah kegelapan akhir malam ketika bercampur dengan cahaya Subuh, dan yang dimaksud dengan galas itu bukan sebelum terbit fajar sadik, tetapi yang dimaksud adalah bahwa beliau salat Subuh di awal waktunya, yaitu saat terbit fajar sadik, dan ini adalah galas.