BELAJAR KHGT PEMULA
BELAJAR KHGT
KHGT menjadi pilihan kriteria hisab hakiki paling mutakhir bagi Muhammadiyah. Sebelumnya, sejak berdiri, Muhammadiyah pernah menggunakan tiga kriteria berbeda.
Pertama, kriteria *imkan rukyat*, digunakan pada sekitar tahun 1920-an akhir. Kedua, kriteria *ijtimak qablal gurub*, digunakan pada sekitar tahun 1930-an akhir. Ketiga, kriteria *wujudulhilal*, digunakan cukup lama, sejak tahun 1960-an akhir/1970-an awal s.d. medio tahun 2025.
Dinamika perubahan kriteria dari imkan rukyat, ijtimak qablal gurub, wujudulhilal, hingga KHGT tersebut menjadi bukti bahwa di Muhammadiyah pintu ijtihad tetap terbuka dan semangat tajdid terus menyala.
Selasa, 12 Syawal 1447 H
KHGT sebagai kriteria hisab hakiki dilandaskan pada dalil-dalil syar'i dari Al-Qur'an. Pertama, Q.S. al-Isra’ (17): 12, terdapat frasa _lita'lamū 'adada as-sinīna wal-hisāb_, _supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan_. Kedua, Q.S. Yasin (36): 39-40, terdapat frasa _wal-qamara qaddarnāhu manāzila_, _telah Kami tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah_, dan _kullun fī falakiy-yasbahūn_, _(Matahari dan Bulan) masing-masing beredar pada garis edarnya_. Ketiga, Q.S. al-Baqarah (2): 189, terdapat kata _al-ahillah_, _Bulan sabit_ dan frasa _mawāqītu lin-nāsi wal-hajj_, _penanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji_.
KHGT, merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an dalam Q.S. al-Isra’ (17): 12, Q.S. Yasin (36): 39-40, dan Q.S. al-Baqarah (2): 189, sudah selaras dengan maksud yang terkandung di dalamnya. Pertama, kalender Islam adalah kalender yang didasarkan pada peredaran Bulan (lunar). Kedua, ada isyarat bahwa kalender Islam itu bersifat global yang dipahami dari pernyataan _li al-nās_ (bagi manusia) yang menunjukkan keumuman dan universalitas kalender. Ketiga, ada isyarat fungsi religius kalender Islam yang diwakili dan dicerminkan oleh kata _al-ḥajj_ (ibadah haji). Jadi, KHGT adalah kalender untuk keperluan muamalah dan ibadah sekaligus.
KHGT, lanjutan #12 dan #13, juga dilandaskan pada dalil-dalil Al-Qur'an berikut. Keempat, Q.S. Yunus (10): 5, dengan frasa _wa qaddarahū manāzila li ta'lamū 'adadas-sinīna wal-ḥisāb_, _dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)_. Kelima, Q.S. al-Taubah (9): 36-37, dengan kalimat _inna 'iddatasy-syuhūri 'indallāhi itsnā 'asyara syahran_, _Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan_. Keenam, Q.S. al-Rahman (55): 5 dengan kalimat _asy-syamsu wal-qamaru bi ḥusbān_, _Matahari dan Bulan (beredar) menurut perhitungan_.
KHGT, disarikan dari Q.S. Yunus (10): 5, Q.S. al-Taubah (9): 36-37, dan Q.S. al-Rahman (55): 5, dapat dipahami beberapa ketentuan pendukung sebagai berikut. Pertama, penetapan manzilah-manzilah Bulan bermanfaat untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu (hisab). Kedua, bilangan bulan hijriah menurut ajaran Islam berjumlah dua belas bulan (dengan empat bulan haram/suci di dalamnya) dan menutup peluang penambahan hari (interkalasi) yang membawa pada kekafiran. Ketiga, peredaran Matahari dan Bulan dapat dihitung (dihisab) secara presisi dan akurat dengan ilmu pengetahuan.
Lanjut....
